BANUASYARIAH, Banjarmasin – Tanggal 12 Rabiul Awal menjadi salah satu momen bersejarah dalam Islam. Pada hari ini tercatat tiga peristiwa penting: kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, kedatangan beliau di Madinah saat hijrah, dan wafatnya beliau. Semua peristiwa besar ini memberikan pelajaran berharga bagi umat Islam tentang awal peradaban, kepemimpinan, dan tonggak sejarah dakwah Islam.
Hal ini disampaikan oleh Dr Muhammad Taufik NT SPd MPd dalam Rubrik Cahaya Hikmah#3 yang tayang di Channel Banua Syariah Reborn, Senin (8/9/2025).
“Peristiwa pertama terjadi pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah, sekitar tahun 571 atau 570 Masehi. Pada hari itu Nabi Muhammad ﷺ lahir. Peristiwa ini biasanya diperingati di Indonesia maupun di berbagai negeri lainnya,” ujarnya.
Kemudian, pada hari Jumat, 12 Rabiul Awal tahun 1 Hijriah, Nabi ﷺ tiba di Yatsrib (Madinah). Beliau berangkat dari rumah pada sekitar tanggal 27 Safar untuk hijrah, lalu singgah selama tiga hari di Gua Tsur. Pada tanggal 1 Rabiul Awal, beliau berangkat menuju Madinah, dan pada tanggal 12 Rabiul Awal beliau sampai di Yatsrib. Sejak saat itulah awal peradaban Islam dari sisi kemasyarakatan dan pemerintahan mulai diterapkan. Daulah Islam ditegakkan.
“Lalu pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah atau 632 Masehi, terjadi dua peristiwa penting. Pertama, pada waktu dhuha Nabi Muhammad ﷺ wafat. Kedua, pada sore harinya, kaum Muslimin membaiat khalifah pertama dalam Islam, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq ra,” tambahnya, mengutip As-Sirah An-Nabawiyah karya Ibnu Katsir.

Mengenai peringatan maulid sendiri, Pengasuh Ponpes Darul Hikmah Banjarbaru ini mengungkap, dari berbagai literatur, setidaknya ada tiga pendapat mengenai siapa yang pertama kali melaksanakannya.
Pertama, disebutkan bahwa peringatan Maulid Nabi pertama kali dilaksanakan oleh Dinasti Fathimiyah di Mesir. Dinasti ini merupakan sekte Syiah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab al-Ibda’ fi Madharril Ibtida’ karya Syekh Ali Mahfudz. Dinasti Fathimiyah sendiri berkuasa antara tahun 362–567 Hijriah.
Kedua, dalam kitab I’anatut Thalibin disebutkan bahwa yang pertama kali melaksanakan peringatan Maulid adalah Sultan Abu Sa‘id Muzaffar (546–630 H), Gubernur Irbil di Irak. Masa kekuasaannya memang datang setelah Dinasti Fathimiyah.
Ketiga, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa peringatan Maulid pertama kali dilaksanakan oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (567–622 H). Beliau memimpin setelah runtuhnya Dinasti Fathimiyah, masih di wilayah Mesir, dan menjadi pengganti Dinasti tersebut.
Lalu, manakah yang benar? Tidak perlu dipertentangkan, karena bisa jadi ketiga pendapat itu sama-sama benar. Kemungkinan memang bermula dari Dinasti Fathimiyah, lalu berlanjut pada masa setelahnya. Dalam sejarah, Dinasti Fathimiyah tidak hanya memperingati Maulid Nabi, tetapi juga Maulid Ali, Hasan, Husain, dan Fatimah. Namun setelah terjadi pergantian kekuasaan, hanya Maulid Rasul yang diperingati, dan bentuk kegiatannya pun mengalami perubahan.
Maulid dan Kebangkitan Umat
Pada awalnya, peringatan hanya berupa pengumpulan orang, lalu disampaikan orasi atau khutbah. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa biasanya ada tiga penceramah, setelah itu jamaah kembali ke rumah masing-masing. Pada masa Sultan Abu Sa‘id Muzaffar dan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, kegiatan itu berkembang dengan adanya pembacaan dan perlombaan syair.
“Jika kita perhatikan, Sultan Abu Sa‘id Muzaffar dan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan. Sultan Shalahuddin memiliki seorang saudara perempuan bernama Rabi‘ah Hatun binti Ayyub. Rabi‘ah kemudian dinikahi saudara laki-laki Abu Sa‘id Muzaffar,” ungkapnya.
Pada masa Shalahuddin al-Ayyubi, salah satu tokoh yang menonjol dalam tradisi syair Maulid adalah Syekh Ja‘far al-Barzanji, penulis Maulid Barzanji yang hingga kini masih banyak dibaca di berbagai daerah, termasuk di Jawa. Bedanya, pada masa itu suasana sedang berada di tengah-tengah Perang Salib, ketika Palestina dikuasai pasukan Salib. Sehingga peringatan Maulid diwarnai dengan nuansa perjuangan, bukan sekadar ritual atau orasi biasa.
Karena itu, Shalahuddin al-Ayyubi memanfaatkan momentum peringatan Maulid untuk menggelorakan semangat jihad. Sehingga pasa masa kepemimpinannya Baitul Maqdis bisa kembali dibebaskan.
Namun, jika kita lihat masa sekarang, Baitul Maqdis kembali dijajah, bukan lagi oleh pasukan Salib, melainkan oleh kaum Yahudi. Sementara hingga kini belum ada perkembangan yang menggembirakan ke arah pembebasannya.
Bahkan dalam realitas sekarang, ceramah Maulid sering kali tidak lagi begitu diminati. Ada kecenderungan sebagian orang merasa kurang bersemangat, bahkan lelah setelah acara, sehingga makna Maulid tidak benar-benar sampai sebagaimana dahulu.
“Maka tugas kita adalah menjadikan Maulid sebagai tonggak kebangkitan umat, bukan sekadar perayaan ritual. Caranya adalah dengan memperbanyak ngaji mempelajari warisan Nabi ﷺ, yakni syariat yang menjadi sebab kebahagiaan dunia dan akhirat, kemudian mengamalkan dan mendakwahkan, menularkan semangat perjuangan, cita-cita, serta misi Nabi ﷺ kepada generasi berikutnya,” tambahnya.
Imam Al-Baidlawi menafsirkan firman Allah: “Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin” — tidaklah engkau diutus melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Beliau menjelaskan bahwa apa yang Nabi ﷺ bawa adalah sebab kebahagiaan manusia, menjadi jalan perbaikan bagi kehidupan dunia dan akhirat mereka.
Karena itu, ngaji mestinya bukan sekadar untuk wawasan, melainkan benar-benar diarahkan untuk kebangkitan umat. Banyak alumni lembaga pendidikan Islam setiap tahun — dari pesantren hingga universitas — yang selesai menempuh pendidikan, tetapi sayang banyak yang tidak melanjutkan misi perjuangan. Fokusnya hanya mencari pekerjaan atau materi.
“Sehingga peringatan Maulid harus dilandasi oleh iman dan empati kepada umat Islam sebagai bukti kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Jika ada kasih sayang dan keinginan kuat agar umat ini menjadi baik, insyaAllah itu akan menjadi tanda-tanda kebangkitan,” tandasnya. (BS1)



