BANUASYARIAH, Kandangan– Suasana khusyuk dan penuh semangat menyelimuti Kandangan, tempat digelarnya acara Refleksi Pasca Maulid: Satu Risalah, Satu Umat, Satu Tujuan. Acara yang diselenggarakan oleh Majelis Baitul Hikmah Kandangan ini diikuti sejumlah tokoh dan ulama dari berbagai daerah di Banua Enam, dalam semangat untuk memaknai kembali cinta kepada Nabi Muhammad Saw.
Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustaz Faqih Muqaddam, Majelis kemudian dipandu oleh Host Arie dan Moderator Ikhsan, menghadirkan tiga pembicara. Pengasuh Majelis Ta’lim wal Ibadah Nurul Mustafa Tabalong Guru Dr Pahrul MHI, Pengasuh Majelis Tafaqquh Fid Diin Barabai Ustaz Ali Rahman SPd SSyI dan Cendekiawan Muslim Kandangan Ustaz Rizana Wahdi.
Bukti Cinta Bukan Sekadar Ritual
Tuan Guru Pahrul membuka diskusi dengan muhasabah pada pemahaman umat tentang Ittiba’, mencontoh dan meneladani Nabi. Menurutnya, perayaan Maulid tidak boleh berhenti pada ritual spiritual saja.
“Cinta itu menentukan dengan siapa kita akan berkumpul di akhirat kelak. Tapi, bukti cinta itu bukan hanya pengakuan, tapi ittiba’ mengikuti dan menjadikan seluruh aktivitas kita terikat dengan hukum syara’,” ujar Guru Pahrul.
Sementara di tengah umat terangnya tampak terjadi kontradiksi. “Selawat rajin, tapi tidak mau menutup aurat. Padahal Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, dari bangun tidur sampai urusan negara. Allah menilai hati dan amal, bukan tampilan dan jabatan,” tambahnya.
Solidaritas Palestina adalah Syarat Kesempurnaan Iman
Sementara itu, Ustaz Ali Rahman mendalami tema Rahmatan Lil ‘Alamin dengan menegaskan bahwa rahmat yang dibawa Nabi adalah syariat yang menciptakan peradaban, dan cinta kepada Nabi menuntut kepedulian universal terhadap umat.
“Tidak sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya, sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri,” ujar Ustaz Ali Rahman, merujuk pada hadis Nabi. “Perumpamaan kaum muslimin itu seperti satu tubuh. Kalau satu anggota sakit, semua ikut merasakan.”
Termasuk dalam hal ini adalah senantiasa peduli dan membela umat Islam di Palestina. “Diam terhadap kezaliman yang dialami saudara kita di Palestina, adalah pengkhianatan terhadap cinta kita kepada Rasulullah Saw,” tandasnya.
Khilafah: Perisai Umat dan Keniscayaan
Diskusi terus mengalir hingga sampai pada pembahasan solusi yang disampaikan Ustaz Rizana Wahdi.
“Berkaca pada sejarah, yang membebaskan tanah kaum muslimin dari cengkraman penjajah, termasuk zionis adalah Khilafah Islamiyah. Khilafah lah yang menjadi junnah (Perisai/Pelindung),” terangnya.
Sementara itu, menjawab pertanyaan mengapa Khilafah selalu dicitrakan negatif, Ustaz Rizana Wahdi menjelaskan bahwa hal itu adalah hasil dari “perang pemikiran” yang digerakkan oleh Barat yang takut pada kebangkitan Islam. (BS1)



