BANUASYARIAH, Banjarmasin – Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Forum Solidaritas Muslim Banua Peduli Palestina (FSMBPP) menggelar aksi penyampaian sikap di Simpang Tiga Jalan Hasan Basri, Banjarmasin. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes keras terhadap kebijakan Pemerintah Republik Indonesia yang bergabung dalam organisasi internasional Board of Peace (BoP).
Rangkaian Kegiatan dan Tuntutan Utama
Kegiatan yang diikuti sejumlah aktivis ini diisi dengan agenda bentang spanduk dan orasi penyampaian sikap di ruang publik. Dalam orasinya, massa menuntut agar Indonesia segera menjaga independensi politik luar negerinya dengan tidak mengirimkan tentara di bawah komando Amerika Serikat (AS).
“Adanya kebijakan pengiriman tentara dalam rangka BoP yang dipimpin secara absolut oleh AS, adalah langkah yang sangat berbahaya dan menghancurkan muruah bangsa,” ujar salah satu perwakilan forum dalam pernyataannya.
Alasan Penolakan: Soroti Neokolonialisme dan Palestina
Aksi ini dipicu oleh keputusan pemerintah untuk bergabung dengan BoP, sebuah struktur yang dinilai diprakarsai oleh kekuatan imperialis atau neokolonialisme. Orator menyampaikan bahwa AS, sebagai aktor utama di balik BoP, merupakan pihak yang berperan besar dalam memberikan pendanaan dan perlindungan politik terhadap genosida yang terjadi di Palestina.

Selain isu Palestina, massa juga menyoroti rekam jejak militer AS yang dinilai brutal, termasuk serangan rudal Tomahawk baru-baru ini yang menghancurkan sekolah dasar di Minab, Iran, dan menewaskan sedikitnya 165 jiwa.
Pernyataan Sikap secara Syariat dan Konstitusi
Secara tegas FSMBPP menyatakan, bahwa menundukkan kekuatan militer Indonesia di bawah perintah komando AS adalah tindakan yang haram secara syariat. Mereka merujuk pada QS. An-Nisa ayat 141 yang melarang memberikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai kaum muslimin.
Melalui pernyataan sikapnya, penyelenggara menyampaikan tiga poin desakan utama:
– Membatalkan keikutsertaan dan segera keluar dari BoP;
– Menolak segala bentuk intervensi asing dan kembali pada politik luar negeri yang independen; dan
– Memobilisasi tentara untuk fokus pada pembebasan tanah Palestina dari penjajah Zionis, alih-alih menjadi pion kepentingan global.
Kegiatan ditutup dengan seruan agar masyarakat Banua bersatu menjaga kedaulatan umat, dan tidak membiarkan kebijakan negeri disetir oleh kepentingan asing.
(FT)



