BANUASYARIAH, Banjarmasin — Sejumlah ulama dan tokoh masyarakat di Kota Banjarmasin menggelar agenda “Temu Ulama dan Tokoh Umat” pada Sabtu (02/05/2026) malam.
Membawa tema utama “Kembali kepada Islam Kafah”, acara ini menjadi wadah silaturahmi pasca-Idulfitri, sekaligus wujud kepedulian (ihtimam) para ulama terhadap berbagai problematika yang tengah mendera umat Islam saat ini.
Guru Abdul Hasan, selaku sahibulhajat dalam sambutannya menegaskan, bahwa kembali kepada ajaran Islam yang kafah (menyeluruh) bukan sekadar menjalankan ibadah mahdhah seperti salat, puasa, atau haji.
“Tetapi bagaimana mengatur semuanya itu agar lebih mendekatkan diri kepada Allah. Hubungan kita (dengan) Allah itu harus secara totalitas, secara sempurna,” ujarnya.
Guru Abdul Hasan menambahkan, bahwa jika umat menolong agama Allah dengan menerapkan sistem Islam secara kafah, Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya.
Dalam pemaparan materi, Guru H. Sutarto menyoroti urgensi kesadaran umat terhadap masalah utama yang mereka hadapi. Dirinya menganalogikan kondisi umat saat ini layaknya orang sakit yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang sakit.
“Umat ini banyak masalah, tapi yang menjadi masalah lebih dasar lagi adalah umat ini tidak sadar bahwa dia sedang bermasalah,” tegasnya.
Guru H. Sutarto menjelaskan, bahwa penolakan terhadap kebenaran sering kali terhalang oleh ego, kesombongan (asabiah), serta kecintaan pada dunia, sehingga solusi mendasar berupa penerapan sistem kehidupan Islam kerap diabaikan.
Senada dengan hal tersebut, Datuk Ahmad Barjie B. menyoroti orientasi dakwah yang dinilainya selama ini berfokus pada ranah ibadah (sekitar 90%), sementara ajaran tentang pengelolaan sumber daya alam, kesejahteraan, dan kepemimpinan sering tertinggal.
Padahal menurutnya, wilayah Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang melimpah, namun kesenjangan ekonomi dan kemiskinan masih terjadi akibat pengelolaannya yang jauh dari aturan Islam.
Datuk Ahmad Barjie juga menepis stigma minoritas akan tersisih jika Islam berkuasa.
“Kalau kita melihat yang dirumuskan oleh Nabi Muhammad saw. pada tahun pertama Hijriah, itu sudah jelas mengatur bahwa golongan minoritas dilindungi sepenuhnya; harta mereka, adat istiadat mereka, tanpa perlu mereka menganut agama Islam,” tuturnya merujuk pada Piagam Madinah.
Sementara itu, Guru H. Abdul Jabar mengajak umat untuk meneladani metode (thariqah) dakwah Rasulullah saw. saat menghadapi ujian dan penolakan keras di Makkah, mulai dari penganiayaan, propaganda hitam, hingga pemboikotan ekonomi. Kuncinya, menurutnya, adalah kesabaran dan tawakal.
“Maka yang harus kita lakukan adalah berani menanggung berbagai risiko penderitaan di jalan dakwah ini, mencurahkan segenap pengorbanan, tanpa menuntut imbalan apapun selain menuntut rida Allah Swt.,” pesan Guru H. Abdul Jabar.
Sebagai pamungkas, Guru Baihaki Al Munawar mengingatkan kembali posisi strategis dan mulia para ulama sebagai warasatul anbiya atau pewaris para nabi.
“Seorang ulama memiliki amanah, yaitu menyampaikan apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. dan meninggalkan apa yang ditinggalkan Rasulullah saw.,” tegasnya.
Guru Baihaki juga mengingatkan, agar kaum muslimin membangun kemandirian peradaban dan tidak gentar terhadap hegemoni bangsa asing.
Acara ditutup secara khusyuk dengan doa bersama yang dipimpin Guru Rahimi, dan diakhiri dengan sesi ramah tamah serta makan bersama.
(BS)



