BANUASYARIAH, Banjarmasin — Sejumlah ulama dan tokoh masyarakat yang tergabung dalam Forum Ulama dan Tokoh Peduli Umat Banjarmasin, dengan tegas menolak solusi dua negara untuk konflik Palestina-Israel. Penolakan ini disuarakan dalam acara Jalsah Al-Khash-Shah Al Mukatstsafah (Majelis Khusus dan Intensif), Jumat (17/10/2025) malam.
Sikap tegas ini mengemuka sebagai respons terhadap wacana yang diusung Barat, dan mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin negara dari dunia Islam -termasuk Presiden RI Prabowo di Sidang Umum PBB pada 23 September 2025. Serta narasi dukungan terhadap solusi dua negara yang dibangun pemengaruh berlatar belakang islami di media sosial, dengan alasan darurat kemanusiaan dan untuk mencegah lebih banyak korban jiwa.
Solusi Dua Negara, Haram dan Pengkhianatan Terhadap Umat
Menanggapi hal tersebut, narasumber pertama, Guru Dr. Wahyudi Ibnu Yusuf menegaskan, bahwa solusi dua negara adalah haram dan merupakan sebuah pengkhianatan terhadap umat Islam. Menurutnya, harus ada pembedaan yang jelas antara perjanjian gencatan senjata yang bersifat sementara—dan diperbolehkan dalam Islam—dengan perjanjian solusi dua negara yang bersifat permanen.
“Menyetujui solusi dua negara berarti mengakui keabsahan eksistensi negara kafir Yahudi, sekaligus mengakui keabsahan perampasan tanah milik kaum muslimin di Palestina sebanyak 78%,” tegasnya.
Guru Wahyudi menganalogikan situasi tersebut dengan perampokan.
“Ini penjajah datang ke wilayah kita, lalu kita berbagi dengan penjajah. Logika apa yang bisa digunakan untuk menerima pembagian itu?” tanyanya retoris.
Guru Wahyudi menjelaskan, bahwa perjanjian tersebut akan mengarah pada pengakuan diplomatik penuh terhadap Israel dan menghentikan kewajiban jihad untuk membebaskan Palestina. Dirinya menyebut bahwa solusi sejati sesuai isyarat hadis-hadis akhir zaman adalah melalui jihad, bukan diplomasi atau deklarasi.
Semangat perlawanan terhadap penjajahan ini, sambung Guru Wahyudi, sejatinya telah mendarah daging dalam sejarah bangsa. Ia mengingatkan kembali kehebatan para pejuang Kesultanan Banjar di masa lalu.
“Kalau bicara sejarah, orang Nusantara ini, termasuk orang Banjar, satu-satunya perang di Nusantara yang bisa menenggelamkan kapal Belanda itu orang Banjar. Perangnya perang maritim. Kita itu ahli perang maritim,” ungkapnya, menekankan bahwa bangsa ini memiliki DNA pejuang yang hebat.

Kapitalisme Sumber Masalah Global
Narasumber kedua, Guru Baihaki Al-Munawar, mengaitkan lemahnya posisi pemimpin negeri muslim dengan sistem pemerintahan yang dianut saat ini. Menurutnya, Indonesia saat ini ibarat “pungguk merindukan bulan” untuk menjadi pemain global, karena para pemimpinnya justru mengikuti solusi yang diharamkan.
“Permasalahan kita itu bukan pada person, kenapa? Karena sistemnya. Sistem pemerintahan kapitalisme itu sumbernya,” ujar Guru Baihaki.
Dirinya berpendapat bahwa satu-satunya jalan bagi Indonesia untuk menjadi pemimpin dunia Islam dan pembebas Palestina, adalah dengan kembali kepada sistem Islam. (BS2)



