BanuaSyariah, Banjarmasin — Forum Intelektual Muslim Banua (FIMB) menggelar kegiatan Refleksi dan Muhasabah Akhir Tahun 2025 pada Ahad (21/12/2025) di Banjarmasin. Forum ini menghadirkan pemaparan kritis kondisi ekonomi nasional serta refleksi spiritual atas berbagai problem bangsa yang kian kompleks.
Dalam paparannya, M. Hatta, SE, MSI mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada pada situasi yang mengkhawatirkan. Per tahun 2025, utang negara telah menembus Rp9.219 triliun. Beban pembayaran bunga utang mencapai Rp552,9 triliun, sementara pembayaran pokok utang pemerintah dan BUMN non-bank secara total mencapai Rp1.073 triliun.
“Karena besarnya utang, akhirnya ditutup dengan utang baru, salah satunya melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN),” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketimpangan distribusi kekayaan yang semakin parah. Total dana masyarakat yang tersimpan di perbankan mencapai Rp10.000 triliun. Dari jumlah tersebut, rekening dengan saldo Rp5 miliar ke atas menguasai 56,8 persen pada tahun 2025, meningkat dari 53 persen pada Desember 2024. Jika digabung dengan rekening saldo Rp1–5 miliar, maka lebih dari 70 persen kekayaan nasional dikuasai oleh kelompok kecil.
“Dari sekitar 600 juta rekening bank, hanya 0,6–0,8 persen yang memiliki saldo di atas Rp1 miliar. Ini menunjukkan ketimpangan yang sangat serius dan terus memburuk,” tegasnya.
Ironisnya, dana besar yang tersimpan di bank tersebut dinilai tidak produktif. Sekitar Rp5.500 triliun atau 63 persen dana perbankan justru menganggur dalam bentuk SBN.
Selain persoalan ekonomi domestik, M. Hatta juga mengingatkan dampak geopolitik, khususnya rencana keanggotaan Indonesia di Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Menurutnya, keanggotaan ini berpotensi memaksa Indonesia berkompromi dengan negara-negara yang lebih dahulu menjadi anggota, termasuk zionis Israel.
“Di tengah jargon boikot, fakta menunjukkan ekspor-impor Indonesia ke Israel justru cenderung meningkat. Hingga Juli 2025 nilainya sudah mencapai USD 145 juta, dan berpotensi melampaui angka tahun sebelumnya sebesar USD 182,9 juta,” ungkapnya.
Masalah lain yang tak kalah serius adalah maraknya pinjaman daring (pindar). Saat ini tercatat 25,4 juta orang terlibat pindar, mayoritas dari kalangan perorangan. Secara kumulatif, nilai transaksi pindar hingga Agustus 2025 mencapai Rp1.270 triliun.

Sementara itu, Dr. Muhammad Taufik NT dalam tausiyah reflektifnya menekankan bahwa akar dari berbagai krisis bangsa adalah hilangnya keberkahan akibat dosa dan jauhnya orientasi kepada Allah SWT.
“Dosa paling kecil adalah kurang bersyukur, dan dosa paling besar adalah menyekutukan Allah. Dosa inilah yang membuat Allah tidak ridha dan mencabut keberkahan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa refleksi seharusnya tidak hanya dilakukan di akhir tahun, tetapi sejak awal perjalanan suatu negara. “Tanda sukses itu di ujung, tapi titik awalnya harus benar, yakni merujuk kepada Allah SWT,” tambahnya.
Menurutnya, berbagai problem seperti krisis ekonomi, maraknya kejahatan brutal, hingga persoalan sosial dan moral, harus dikembalikan pada evaluasi keimanan dan ketakwaan. Ia mengingatkan prinsip al-jazā’ min jinsil ‘amal—balasan sesuai dengan perbuatan.
“Ketakwaan itu menyentuh semua aspek: ekonomi, hukum, pendidikan, dan sosial. Tanpa itu, masalah tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Ia pun mengajak umat Islam untuk kembali mengkaji dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah, termasuk dalam aspek tata kelola ekonomi dan kehidupan bermasyarakat. Kitab-kitab seperti Nizhamul Iqtishadi fil Islam dan Al-Amwal disebutnya sebagai rujukan penting yang perlu dipelajari dan diterapkan.
Kegiatan refleksi ini ditutup dengan ajakan muhasabah bersama, agar umat dan negeri ini kembali menata arah kehidupan dengan menjadikan syariat Islam sebagai pedoman utama, demi menghadirkan keadilan dan keberkahan yang hakiki. (BS1)



