BANUASYARIAH, BARABAI – Hijrah bukan sekadar sejarah perpindahan fisik dari Mekkah ke Madinah, tetapi hijrah merupakan sebuah thariqah siyasah, metode politik membangun peradaban.” Gagasan inilah yang mengemuka dalam sebuah forum diskusi dinamis bertajuk “Hijrah dan Metode Rasulullah SAW Membangun Masyarakat Ideal” yang di Barabai, Kamis (17/7/2025) malam.
Diskusi dalam nuansa tahun baru Islam 1447 H ini, dihadiri sejumlah tokoh dan aktivis umat.
Pembicara dalam forum tersebut, Ustaz Wahyu menyampaikan pentingnya melihat Sirah Nabawiyah (sejarah perjalanan Nabi) lebih dari sekadar cerita masa lalu. Menurutnya, di dalamnya terkandung panduan strategis yang relevan hingga hari ini.
“Sirah itu bukan sekadar perkara tarikh atau sejarah, tetapi juga tasyri’ atau sumber hukum. Ketika kita ingin membentuk sebuah masyarakat yang ideal, maka mau tidak mau, metode yang ditempuh Rasulullah itulah yang harus menjadi panduan dan tuntunan kita,” ujarnya di hadapan para peserta.
Dari peristiwa hijrah ini pula tampak adanya dua fase perjuangan Baginda Nabi Muhammad SAW yang ditandai dengan strategi berbeda di tiap-tiap fasenya.
Pertama fase mekkah selama 13 tahun disebut sebagai tahap pembinaan (tasqif) dan perjuangan non-fisik. Pada periode ini, fokus utama adalah membangun fondasi ideologis yang kokoh pada individu dan kelompok. Aktivitas utamanya meliputi perjuangan Pemikiran (Sira’ul Fikri), yakni secara aktif menentang dan membongkar kebobrokan pemikiran, tradisi, dan kepercayaan masyarakat jahiliah saat itu.
“Selanjutnya perjuangan Politik (kifah siyasi), dengan melakukan konfrontasi politik dengan para pemimpin dan elite Quraisy yang mempertahankan status quo,” ungkapnya.
Aktivitas berikutnya yang dilakukan Nabi saat berada di fase Makkah adalah mencari dukungan (thalabun nushrah) dari para kabilah-kabilah yang memiliki kekuatan, sebagai persiapan untuk mendirikan sebuah tatanan masyarakat baru.
“Fase Madinah adalah tahapan kedua perjuangan Rasulullah. Setelah beliau mendapatkan baiat dari masyarakat Yatsrib dan beliau hijrah, barulah syariat Islam diterapkan secara kaffah,” tambah Wahyu.
Relevansi dengan Tantangan Zaman
Diskusi pun menjadi semakin interaktif, ketika membahas relevansi metode tersebut dengan tantangan kontemporer. Para peserta sepakat bahwa salah satu problem utama yang dihadapi umat Islam saat ini adalah hegemoni paham sekularisme, yang memisahkan peran agama dari kehidupan publik seperti politik, ekonomi, dan sosial.
“Kekuatan untuk berubah itu ada di tengah umat. Maka, umat perlu disadarkan terlebih dahulu akan akar permasalahannya dan solusinya. Penyadaran inilah yang menjadi kunci agar umat mau bergerak menuntut perubahan ke arah yang lebih baik,” ungkap seorang peserta dalam sesi tanggapan.
Acara yang berlangsung selama hampir dua jam ini diakhiri dengan doa bersama. Para hadirin berharap, kegiatan positif seperti ini dapat terus berlanjut untuk memperkuat tali silaturahmi sekaligus menyatukan pemahaman dan visi umat dalam menghadapi dinamika zaman. (BS/WY)



