BANUASYARIAH, Banjarmasin — Dalam keseharian kita—mulai dari obrolan santai di warung-warung kopi hingga perdebatan panas di media sosial—perbedaan pandangan acap kali menciptakan sekat di tengah masyarakat. Energi yang seharusnya bisa digunakan untuk berkolaborasi, tak jarang habis hanya karena kita berbeda pilihan atau berbeda barisan.
Menangkap realitas sosial yang kerap menguras energi umat ini, Wali Kota periode 2016–2025 H. Ibnu Sina, melontarkan sebuah pesan penyejuk. Pada momen peringatan 500 Tahun Banjarmasin, tokoh Banua ini menegaskan, bahwa salah satu kunci kemajuan daerah bisa dicapai jika umat bersatu, yang dibarengi dengan komitmen pemerintah dalam memfasilitasi kemajuan Pembangunan masyarakat.
Dalam rangka memperingati lima abad Kota Seribu Sungai tersebut, Himpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) Provinsi Kalimantan Selatan menyelenggarakan “Forum Tokoh” bertajuk “Waja Sampai Kaputing, Maharagu Muruah Islam di Tanah Banua” pada Sabtu (3/10/2026) siang, di Banjarmasin.
H. Ibnu Sina, yang juga menjabat sebagai Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Provinsi Kalimantan Selatan, hadir sebagai salah satu pembicara. Ia mengupas makna mendalam di balik tema yang diangkat, menyoroti pentingnya peran pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga muruah (kehormatan) Islam.

Ibnu memaknai “maharagu” bukan sekadar merawat dan menjaga, melainkan sebuah tindakan progresif untuk mengembangkan apa yang sudah ada menjadi lebih baik. Menurutnya, ada dua pilar utama dalam tugas ini: peran pemerintah dan peran masyarakat.
Pemerintah, kata Ibnu, harus memfasilitasi perkembangan kehidupan keagamaan melalui alokasi anggaran, pembangunan infrastruktur, hingga pemberian beasiswa bagi calon ulama. Sementara dari sisi masyarakat dan tokoh agama, diajak untuk tetap bersatu siapa pun pemimpinnya, guna ikut membantu kemajuan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Ibnu juga membagikan upayanya mengangkat eksistensi Islam dan Melayu Banjar di kancah internasional melalui DMDI.
Ia menceritakan pengalamannya mengunjungi Museum Dunia Melayu di Melaka, Malaysia. Di sana, Ibnu menyadari minimnya literatur tentang ulama besar asal Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan).

Melalui inisiatifnya, DMDI Kalsel kemudian menyediakan referensi, buku-buku, hingga pakaian adat untuk melengkapi koleksi museum tersebut, memastikan bahwa warisan Melayu Banjar dan keislaman mendapat tempat yang layak di mata dunia.
Upaya ini juga sejalan dengan komitmen DMDI dalam mendokumentasikan khazanah sejarah, budaya, dan kearifan lokal melalui penerbitan buku.
Menutup paparannya, Ibnu memberikan pesan penting tentang bagaimana merawat muruah Islam di era saat ini. Ia menegaskan bahwa digitalisasi adalah kunci agar warisan intelektual dan budaya Banjar tidak lekang oleh waktu, dan dapat terus diakses oleh generasi mendatang.
“Adalah dengan memastikan bahwa proses digitalisasi semua referensi ini sudah dilakukan. Karena itulah sarana yang bisa kita lakukan untuk mempublikasi dan memasukkannya ke jurnal atau pun juga ke perpustakaan,” pungkas Ibnu.

Forum Tokoh ini turut dihadiri oleh Sejarawan Banjar Datuk Cendekia Ahmad Barjie dan Ulama zuriah Datu Kelampayan (Guru H. Lutfi Hidayat), yang bersama-sama merefleksikan 5 abad perjalanan Kota Banjarmasin dalam bingkai keislaman dan kebudayaan.
(BS)



