BANUASYARIAH, Banjarmasin – Persoalan krisis air yang terus berulang di wilayah Kalimantan Selatan (Banua), memantik perhatian serius dari berbagai kalangan. Merespons hal tersebut, Himpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar “Forum Tokoh” di Banjarmasin, Sabtu (7/11/2026).
Mengusung tema “Krisis Air Berulang di Banua, Bagaimana Solusinya?”, diskusi ini mempertemukan para ulama, cendekiawan, pengamat, hingga praktisi pengelolaan air untuk bertukar gagasan dan merumuskan solusi konkret bagi masyarakat.

Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah pemaparan dari Guru Besar Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Chusnul Arif, S.T.P., M.Si., yang hadir secara daring. Dalam materinya, Prof. Chusnul menekankan pentingnya “konsep keselarasan” dalam menjaga lingkungan alam sekaligus memecahkan masalah air bersih.
Menurut pakar sumber daya air tersebut, tidak ada satu teknologi tunggal yang bisa menyelesaikan semua permasalahan air, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi spesifik di lapangan. Ia menawarkan solusi taktis berbasis masyarakat, salah satunya melalui metode memanen air hujan.
“Bagaimana kita bisa memanen air hujan dari atap? Atap dengan kurang lebih ukuran 100 meter persegi, bisa mendapat kurang lebih 8.000 liter. Jadi 8.000 liter itu sudah cukup besar, artinya ada potensi bagaimana kita memanfaatkan air hujan,” jelas Prof. Chusnul.
Ia mencontohkan bahwa sistem ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan talang, dan sistem penyaringan air hujan sederhana dari atap rumah yang dialirkan ke tempat penampungan.
Lebih lanjut, untuk mengatasi air yang sudah tercemar atau memiliki tingkat salinitas tinggi akibat intrusi (tercemar) air laut, Prof. Chusnul merekomendasikan intervensi teknologi lanjutan.

“Ya kita pakai teknologi reverse osmosis, sehingga bisa menurunkan kadar garam dan layak untuk diminum,” terangnya.
Dari sisi manajemen tata kelola, ia juga mendorong pemanfaatan Internet of Things (IoT) sebagai sistem peringatan dini, yang memungkinkan pemantauan kualitas air secara langsung melalui ponsel pintar.
Pada penutup paparannya, Prof. Chusnul mengingatkan, bahwa ketahanan air harus dijaga secara terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.
“Semuanya bertanggung jawab untuk berkontribusi, mulai dari pemerintah, pemda, masyarakat, kalangan industri, kalangan akademisi, dan semuanya,” tegasnya.
Ia juga menggarisbawahi perlunya evaluasi dan penguatan regulasi peraturan daerah terkait sumber daya air.
Selain Prof. Chusnul, forum ini juga diisi oleh pemaparan dari intelektual muslim Kalsel, Dr. H. Wahyudi Ibnu Yusuf, M.Pd. Gagasan para narasumber ini kemudian ditelaah langsung oleh deretan penanggap kompeten, di antaranya akademisi Prof. Dr. H Akhmad Fauzi Aseri, M.A., dan pengamat Dr. Drs. H Ahmad Murjani, M.Kes., S.H., M.H.

Pandangan dari sudut pandang praktis dan manajerial turut diberikan oleh Ir. H Muslih, figur visioner yang sukses memimpin PDAM Bandarmasih selama sekitar tujuh tahun dan kini menjabat sebagai Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Tirta Dharma Pamsi.
Diskusi ini semakin kaya dengan hadirnya Datu Cendikia Ahmad Barjie, budayawan dan sejarawan lokal yang menyoroti pentingnya merawat kebudayaan dan kearifan lokal Banjar dalam menjaga keseimbangan alam.
(BS)



