Sunday, November 8, 2026
spot_img
More

    Latest Posts

    Soroti Mahalnya Tarif Air dan Komersialisasi, Budayawan Ahmad Barjie Usulkan Pembentukan Kembali Dinas Sungai di Banjarmasin 

    BANUASYARIAH, Banjarmasin – Ustaz, penulis, budayawan, sekaligus sejarawan lokal Banjar, Datu Cendikia Ahmad Barjie, menyoroti mahalnya tarif air bersih, serta mendesak adanya revitalisasi pengelolaan air permukaan dan sungai, untuk mengatasi persoalan air di Provinsi Kalimantan Selatan.

    Pandangan tersebut ia sampaikan saat hadir sebagai penanggap dalam Forum Tokoh bertema “Krisis Air Berulang di Banua, Bagaimana Solusinya?”, gelaran Himpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) Kalsel, di Banjarmasin, Sabtu (7/11/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, Datu Barjie menilai bahwa beban biaya pembayaran air bersih yang dirasakan masyarakat saat ini tergolong relatif mahal. Ia mencontohkan pengalaman koleganya, Dr. Syekh Ahmad Usamah—rekan Prof. Dr. H. Akhmad Fauzi Aseri di UIN Antasari—yang pernah bermukim dan menempuh pendidikan selama 25 tahun di Mesir serta Sudan.

    Di negara tersebut, tarif air untuk hotel maupun asrama mahasiswa hanya berkisar Rp50.000 hingga Rp100.000 per bulan, berbanding terbalik dengan tagihan di daerah ini yang bisa mencapai jutaan rupiah.

    Menurut Datu Barjie, tingginya tarif tersebut kemungkinan dipicu oleh besarnya beban biaya pemeliharaan instalasi perusahaan air minum (PAM) di satu sisi, serta adanya tuntutan mencari keuntungan untuk menyumbang pendapatan asli daerah di sisi lain. Ia mengingatkan agar pengelolaan air tidak terlalu berorientasi pada keuntungan komersial semata.

    Optimalisasi Air Permukaan dan Pergeseran Kebiasaan Masyarakat

    Selain persoalan tarif, Datu Barjie juga menanggapi paparan penanggap lainnya, yakni mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum Bandarmasih Ir. H. Muslih, terkait tidak memungkinkannya pengembangan air tanah di Kota Banjarmasin.

    Sebagai alternatif, ia menilai Kota Banjarmasin masih sangat memungkinkan untuk memelihara dan memanfaatkan sumber air permukaan, baik yang berada di sungai, parit, maupun selokan.

    Ia mengenang bahwa pada masa lalu, sebagian besar masyarakat generasi terdahulu masih mengandalkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, dan jarang menggunakan layanan PAM.

    Namun, seiring meningkatnya kemampuan masyarakat berlangganan air leding, ketergantungan terhadap pasokan air perpipaan menjadi total.

    “Ketika kita sudah mampu berlangganan air leding, hampir tidak ada lagi sumber lain yang bisa kita gunakan. Semuanya sampai membasuh rumah, mencuci kendaraan, macam-macam semuanya menggunakan air leding, sehingga pengeluaran meningkat dan kebutuhan air menjadi besar. Seandainya sumber-sumber air di luar PAM itu bisa dikelola, dibersihkan, dan ditata kembali, itu saya kira masih bagus,” tuturnya.

    Berkaca dari Pengelolaan Sungai Nil dan Usulan Dinas Sungai

    Lebih lanjut, Datu Barjie membandingkan potensi perairan di Banjarmasin dengan Mesir yang hanya mengandalkan satu sungai utama, yakni Sungai Nil sepanjang sekitar 7.000 kilometer yang mengaliri beberapa negara, namun mampu menyediakan air dengan harga terjangkau.

    Keberhasilan tersebut, menurutnya, ditopang oleh regulasi yang ketat serta keberadaan Polisi Air, yang menindak tegas siapa pun yang merusak atau mencemari sumber-sumber air dan sungai.

    Menyikapi kondisi di daerah yang belum memiliki badan khusus pengelola sungai secara konsisten, Datu Barjie mengusulkan agar pemerintah kembali menghadirkan instansi tersendiri yang berfokus penuh mengurus sungai, sebagaimana Dinas Sungai yang pernah ada di masa silam.

    “Kalau Dinas Sungai ini sungguh-sungguh diadakan kembali, khusus tugasnya untuk memelihara sungai secara maksimal, sehingga fokus di situ saja,” tegas tokoh yang aktif merawat serta mendokumentasikan sejarah dan kebudayaan Banjar tersebut.

    Kegiatan Forum Tokoh HILMI ini dihadiri para ulama, tokoh agama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat yang antusias bertukar gagasan, demi merumuskan solusi atas persoalan air di Banua.

    Selain menghadirkan Dr. H. Wahyudi Ibnu Yusuf, M.Pd. (Intelektual Muslim Kalsel) dan Prof. Dr. Chusnul Arif, S.T.P., M.Si. (Guru Besar Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University) yang menyampaikan materi secara daring, forum ini turut menghadirkan penanggap lainnya.

    Di antaranya adalah Prof. Dr. H. Akhmad Fauzi Aseri, M.A. (tokoh akademisi Indonesia asal Kalsel), Dr. Drs. H. Ahmad Murjani, M.Kes., S.H., M.H. (Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Kalsel).

    (BS)

    Latest Posts

    spot_img

    Baca Juga

    Stay in touch

    To be updated with all the latest news, offers and special announcements.