BANUASYARIAH, Banjarmasin — Bayangkan jika kita bisa memutar waktu kembali ke lima abad silam, tepat di tepian Sungai Kuin dan Martapura. Kita mungkin akan menyaksikan momen krusial saat Pangeran Samudera, seorang pewaris takhta yang tengah terdesak, mengambil keputusan politik dan spiritual yang mengubah arah sejarah: memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.
Keputusannya tidak hanya menyelamatkan takhtanya dengan bantuan Kesultanan Demak, tetapi juga menyulap Bandar Masih dari sekadar bandar niaga, menjadi pusat peradaban Islam yang jejaknya masih berdenyut hingga detik ini.
Semangat merawat jejak sejarah itulah yang kembali dihidupkan dalam peringatan 500 Tahun Kota Banjarmasin. Himpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) Kalimantan Selatan menggelar “Forum Tokoh” bertajuk “Waja Sampai Kaputing, Maharagu Muruah Islam di Tanah Banua”, Sabtu siang (3/10/2026) di Banjarmasin.
Acara yang dipandu oleh Ustaz Humaidi ini menghadirkan tiga tokoh penting Banua: H. Ibnu Sina (Wali Kota Banjarmasin 2016–2025 sekaligus Ketua Dunia Melayu Dunia Islam Provinsi Kalimantan Selatan), sejarawan dan budayawan Datuk Cendekia Hikmadiraja Kesultanan Banjar Ahmad Barjie, serta Guru H. Lutfi Hidayat (tokoh agama zuriah ulama kharismatik Banua).

Dalam paparannya, sejarawan Ahmad Barjie mengupas tuntas sisi historis awal mula Banjarmasin dan keislamannya. Menariknya, ia menyebutkan bahwa jika dihitung berdasarkan kalender Hijriah, usia kota ini jauh lebih tua dari 500 tahun.
“Berdasarkan posisi kita, berdirinya kota Banjarmasin ini adalah tanggal 8 Zulhijah 932 H. Jadi kalau dihitung sampai sekarang sudah 516 tahun,” ungkap Ahmad Barjie.
Lebih lanjut, ia menyoroti betapa cerdas dan strategisnya langkah Sultan Suriansyah saat itu, dengan memproklamasikan Islam sebagai agama resmi Kesultanan Banjar.
“Otomatis membawa hampir seluruh rakyat Banjar untuk memeluk agama Islam,” papar penulis buku Dari Saudagar ke Pengusaha: Figur Penggerak Perekonomian Banjarmasin (Jejak Niaga, Usaha, dan Pembangunan Tahun 1526–2026) ini.
Di samping aspek religius, forum ini juga mengkritisi kondisi ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam Banua saat ini. Mengingat kembali masa kejayaan Banjarmasin yang pernah menjadi sentra perdagangan Nusantara, dengan komoditas andalan seperti lada dan hasil bumi lainnya.
Ahmad Barjie dengan tajam membandingkan kejayaan masa lalu—ketika Banjar lebih banyak menjual hasil buminya—dengan realitas sekarang. Ia menyoroti fenomena Ketika masyarakat kini lebih konsumtif dan pengelolaan kekayaan alam banyak dikuasai pihak swasta.

“Harusnya semangat untuk membela Tanah Banjar ini bisa dipertahankan oleh generasi kemudian. Yang terjadi sekarang, 51 persen hutan kita sudah tergadai dengan perusahaan-perusahaan, baik nasional maupun internasional,” tegasnya dengan nada prihatin.
Forum Tokoh yang digagas HILMI Kalsel ini diharapkan pihak panitia tak sekadar menjadi ruang nostalgia sejarah. Lebih dari itu, acara ini didorong menjadi wadah bertukar pikiran dan nasihat agar nilai-nilai Islam, budaya, serta kehormatan Banua tetap terjaga di tengah arus zaman yang terus berubah.
(BS)



