Saturday, October 3, 2026
spot_img
More

    Latest Posts

    Mencari Jawaban ‘Kenapa’ di Balik Bencana Banua: Pesan Kritis Guru Luthfi pada 5 Abad Banjarmasin.

    BANUASYARIAH , Banjarmasin— Seorang warga mengeluh kelelahan karena harus terus-menerus mengepel lantai rumahnya yang kebanjiran setiap kali hujan turun lebat. Berhari-hari ia memeras kain pel dan menyalahkan cuaca, tanpa pernah sekali pun mengambil tangga untuk menambal atap yang bocor.

    Kisah sederhana ini mungkin terdengar aneh, namun nyatanya, pola “mengepel lantai tanpa menambal atap” inilah yang kerap mewarnai cara kita mengatasi krisis lingkungan dan sosial di Banua.

    Alih-alih membongkar akar masalah atau mencari tahu “kenapa” atap itu bocor, kita sering kali hanya sibuk memikirkan “bagaimana” cara mengepel genangan airnya dengan cepat. Sindiran tajam sekaligus refleksi mendalam inilah yang dilontarkan oleh Guru H. Luthfi Hidayat dalam peringatan lima abad berdirinya Kota Banjarmasin.

    Dalam Forum Tokoh bertajuk “Waja Sampai Kaputing, Maharagu Muruah Islam di Tanah Banua”, yang diselenggarakan Himpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (3/10/2026) siang, Guru Luthfi hadir sebagai narasumber mewakili suara para ulama. Tokoh agama zuriah Datu Kalampayan ini memberikan perspektif yang berbeda dalam melihat krisis lingkungan dan sosial yang mendera Banua.

    Menurutnya, pemerintah dan para ahli sering kali hanya berfokus pada “bagaimana” menyelesaikan sebuah masalah, tanpa menyentuh akar utamanya.

    “Justru fondasi persoalan itu harus berawal dari ‘kenapa terjadi’,” urai Guru Luthfi di hadapan peserta forum, yang berlangsung di Banjarmasin.

    Ia menegaskan bahwa kecakapan teknis yang dimiliki para ahli di Banua sesungguhnya sudah sangat mumpuni. Namun, jika hanya berfokus pada penyelesaian teknis tanpa mempertanyakan motivasi dan penyebab dasar di balik sebuah masalah, kerusakan akan terus berulang. Di titik krusial inilah, menurutnya, peran ulama menjadi sangat vital.

    Guru Luthfi kemudian mengutip Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41 (Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia), untuk menjelaskan bagaimana Al-Qur’an membedah sebuah persoalan. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggunakan bahasa tarhib (memberikan peringatan dan harapan) untuk menyentuh kesadaran terdalam manusia.

    “Saya yakin kalau bahasa Al-Qur’an seperti ini, kalau kita tidak berhenti melakukan kerusakan, meskipun kita punya teknologi apa pun untuk memperbaikinya, kerusakan itu akan terus terjadi,” tegas pria lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, yang juga memiliki pengalaman di bidang analisis dampak lingkungan.

    Dalam pandangannya, ulama harus memiliki wawasan kajian atas persoalan kekinian umat, seperti krisis lingkungan mulai dari isu persungaian, krisis air bersih, banjir, kebakaran hutan dan lahan, hingga masalah kemiskinan dan pengangguran. Ulama, tegasnya, bertugas membahas persoalan tersebut dari sisi “kenapa semua itu terjadi”, dengan berpijak pada prinsip-prinsip syariat Islam, bukan justru terjebak dalam ranah politik praktis.

    “Politik dalam Islam itu adalah mengurusi urusan umat, baik urusan internal maupun eksternal. Negara yang secara praktis melaksanakan pengurusan tersebut, sedangkan umat (termasuk ulama) melakukan kontrol dan meminta pertanggungjawaban negara,” terangnya saat membedah konsep siyasah atau politik Islam.

    Lebih lanjut, ia memberikan contoh nyata terkait penanganan banjir. Guru Luthfi menceritakan pengalamannya melihat dedikasi para relawan di Rantau yang bekerja tak kenal lelah, bahkan sering kali menggunakan dana patungan dan tak mengharap imbalan.

    Motivasi tulus semacam inilah yang menurutnya perlu didukung dan diperkuat oleh narasi-narasi agama yang disampaikan oleh para ulama, sehingga penanganan persoalan umat bisa lebih berakar kuat pada keikhlasan dan kesadaran bersama.

    Acara yang turut dihadiri oleh Wali Kota Banjarmasin Periode 2016–2025 H. Ibnu Sina, dan Sejarawan Banjar Datuk Cendekia Hikmadiraja Kesultanan Banjar Ahmad Barjie ini, menjadi momentum bagi Guru Luthfi untuk mengingatkan kembali esensi semboyan Waja Sampai Kaputing.

    “Ini bukan sekadar semboyan. Ia menggambarkan keteguhan, keberanian, kesetiaan pada prinsip, dan perjuangan sampai akhir. Kalau nilai ini kita bawa ke dalam kehidupan beragama: Islam tidak cukup hanya diyakini. Islam harus dijaga, diamalkan, dan diwariskan,” pungkasnya.

    (BS)

    Latest Posts

    spot_img

    Baca Juga

    Stay in touch

    To be updated with all the latest news, offers and special announcements.